Wednesday, October 28, 2015

Museum Etnobotani Bogor

 Museum Etnobotani BogorMuseum Etnobotani Bogor



           Museum Etnobotani, sesuai namanya, adalah sebuah museum yang menggabungkan antara ilmu botani dan berbagai karya budaya etnik Indonesia. Museum Etnobotani ini berada di dalam ruangan yang agak tersembunyi di sebuah gedung di Jl. Ir. H. Juanda No. 24, Bogor.

Pintu masuk ke ruangan museum memang tidak berada di bagian depan, namun berada di bagian samping kanan gedung, sedangkan akses ke tempat parkir berada di sebelah kiri gedung, tanpa petunjuk arah yang jelas, sehingga hampir pasti terlebih dahulu akan masuk ke ruangan yang salah.

Etnobotani adalah cabang ilmu tumbuhan yang mempelajari hubungan antara suku-suku asli dengan tetumbuhan yang ada di lingkungan sekitar mereka hidup. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Harsberger, seorang antropolog Amerika, pada 1895.

Museum Etnobotani Bogor sudah cukup lama berdiri, peresmiannya dilakukan pada 18 Mei 1982 oleh Prof. BJ. Habibie, Menteri Riset dan Teknologi waktu itu. Peresmian museum ini dilakukan pada hari yang bertepatan dengan hari ulang tahun Kebun Raya Bogor ke-165.

Sebuah relief yang sangat indah di dinding pintu masuk Museum Etnobotani. Relief ini merupakan satu-satunya benda seni indah yang ada di bagian depan museum, menggambarkan berbagai kegiatan pria dan wanita di kebanyakan pedesaan di tanah air.

Museum Etnobotani Bogor menyimpan lebih sekitar 2000 artifak yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti barang-barang rumah tangga, mainan, pakaian tradisional, peralatan pertanian, perikanan, alat musik, dan sebagainya, yang semuanya dibuat dari bagian-bagian tanaman.

Di sebuah kaca pamer Museum Etnobotani Bogor ditampilkan berbagai jenis topi, keranjang, tikar, dan perlengkapan sehari-hari lainnya yang dibuat dari bagian-bagian pohon Palem. Di museum ini juga terdapat berbagai jenis daun yang diawetkan, juga bahan tumbuhan untuk ramuan jamu tradisional.

Koleksi alat tenun tradisional Museum Etnobotani. Kain tenun tradisional masih merupakan seni kerajinan yang hidup di berbagai tempat di tanah air meskipun telah banyak digantikan dengan alat tenun mesin yang memiliki presisi dan tingkat produktivitas yang tinggi.

Di kotak pamer lainnya dipajang jenis perlengkapan rumah tangga dan peralatan kerja yang dibuat dari bahan rotan, dan kotak pamer lainnya terbuat dari lontar. Lalu ada berbagai jenis topi, bubu penangkap ikan, tampah, bermacam-macam bentuk keranjang yang semuanya terbuat dari bahan dasar bambu.

Gagasan mendirikan museum ini berasal dari Prof. Sarwono Prawirohardjo, Ketua Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang LIPI), saat peletakan batu pertama pembangunan Herbarium Bogoriense pada 1962. Gagasan itu diteruskan Dr. Setiaji Sastrapraja, Direktur Lembaga Biologi Nasional, yang pada 1975 mengadakan pertemuan dengan tokoh permuseuman, ahli ilmu sosial, kemasyarakatan dan antropologi, serta para pakar botani.

Luku atau bajak dalam ukuran aslinya di Museum Etnobotani Bogor. Alat tradisional ini dipakai petani untuk membalik tanah di sawah sebelum ditanami padi. Luku ditarik kerbau atau sapi, namun kini banyak memakai traktor. Petani Jawa mempercayai bahwa luku diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, sebelumnya mereka memakai pacul untuk membalik tanah.

Di kotak pamer lainnya terdapat cangkul sagu, topi, anyaman langit-langit rumah, atap, dinding, serta peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, alat musik dan perlengkapan sehari-hari lainnya yang dibuat dari bahan sagu. Pohon Sagu umumnya dijumpai di daerah Indonesia bagian Timur.

Ada pula garu dalam ukuran asli di Museum Etnobotani. Garu ini dipakai untuk menandai baris yang akan ditanami padi setelah sawah dibajak. Kebanyakan anak kota mungkin tidak pernah melihat alat ini digunakan di sawah. Koleksi artifak Museum Etnobotani dikumpulkan oleh para peneliti, khususnya dari Lembaga Biologi Nasional (sekarang Puslit Biologi).

Akses masuk yang tersembunyi, petunjuk tempat yang kurang jelas, serta kurangnya publikasi, membuat keberadaan Museum Etnobotani Bogor yang menyimpan kekayaan tradisional Indonesia ini terlihat sepi pengunjung. Jika memiliki anak kecil atau remaja, ajaklah mereka untuk berkunjung ke Museum Etnobotani untuk mengagumi ragam karya budaya etnik dari berbagai pelosok tanah air.




              Ethnobotany Museum, as the name implies, is a museum that combines the science of botany and works of Indonesian ethnic cultures. Ethnobotany Museum is located in a somewhat hidden room in a building in Jl. Ir. H. Juanda No. 24, Bogor.

The entrance to the museum is not located at the front, but was on the right side of the building, while the access to the parking lot is located on the left side of the building, with no clear directions, so that almost certainly will first go into the wrong room.

Ethnobotany is the branch of botany that studies the relationship between indigenous tribes with plants that exist in the environment they live. The term was first introduced by Harsberger, an American anthropologist, in 1895.

Ethnobotany Museum Bogor has been long standing, the opening is carried out on May 18, 1982 by Prof. BJ. Habibie, Minister of Research and Technology at the time. The inauguration of the museum is done on a day that coincides with the anniversary of the Garden to 165.

A very beautiful relief on the entrance wall Ethnobotany Museum. This relief is the only thing beautiful art that is in the front of the museum, describes the various activities of men and women in most rural areas in the country.

Ethnobotany Museum Bogor save over 2,000 artifacts from various regions in Indonesia such as household goods, toys, traditional clothing, agricultural tools, fishing, musical instruments, and so on, which are all made from plant parts.

In a glass showroom Ethnobotany Museum Bogor displayed various kinds of hats, baskets, mats, and other daily supplies are made from parts of the palm tree. In this museum there are also many types of leaves are preserved, as well as plant materials for traditional herbal remedies.

A collection of traditional looms Ethnobotany Museum. Traditional woven cloth is still a craft that live in various places in the country although it has been largely supplanted by the loom machine has precision and high productivity levels.

In other show-off display box types of home appliances and working equipment made from rattan, and other show-off boxes made of palm leaf. Then there are different kinds of caps, fishing traps, winnowing, various forms of baskets are all made of bamboo base material.

The idea of ​​establishing this museum came from Prof. Sarwono Prawirohardjo, Chairman of the Indonesian Council of Sciences (LIPI now), when the laying of the first stone of the Herbarium Bogoriense in 1962. The idea was forwarded Dr. Setiaji Sastrapraja, Director of the National Biological Institute, which in 1975 held a meeting with the museum leaders, social scientists, social and anthropological, as well as botanists.

Plow or plow in original size in Bogor Ethnobotany Museum. The traditional tools used by farmers to turn the soil in the paddy field before planting rice. Drawn plow buffaloes or cows, but is now being put on the tractor. Javanese farmers believe that the plow was introduced by Sunan Kalidjaga, before they use hoes to turn the soil.

There are other showrooms in the box hoe corn, hats, woven ceiling, roof, walls, as well as agricultural equipment, household appliances, musical instruments and other daily supplies are made of sago. Sago tree commonly found in the eastern part of Indonesia.

There is also rakes in original size in Ethnobotany Museum. The rake is used to mark lines that are planted with paddy after paddy hijacked. Most children may never see the city these tools are used in the fields. Ethnobotany Museum collection of artifacts collected by researchers, especially from the National Biological Institute (now the Research Center for Biology).

Access the hidden entrance, where the instructions are unclear, and a lack of publicity, making the presence of Bogor Ethnobotany Museum that holds the wealth of Indonesia's traditional look empty. If you have small children or teenagers, invite them to visit the Museum of Ethnobotany to admire the variety of ethnic cultural works from various corners of the country


Museum Etnobotani Bogor
Jl. Ir. H. Juanda 22-24 Bogor . Telp: 0251-321040, 0251-321041, 0251-8322035
Jam Kunjungan: Senin-Kamis 08.00-16.00; Jumat 08.00-11.00 dan 13.00-16.00; Sabtu: dengan perjanjian
Tiket masuk: Rp 2.000


Video Museum Etnobotani Bogor :



Biasakan || Used to:
1.Comment
2.Like
3.Share


Reviewer: FajarYusuf.Com
ItemReviewed: Museum Etnobotani Bogor

Seseorang yang ingin membagi pengalaman dan ilmu yang berguna untuk para pembaca FajarYusuf.Com :)

TENTANG SITUS

SITUS INI ADALAH SITUS PEMBELAJARAN PEMROGRAMAN DAN JUGA PEMAHAMAN TERHADAP TEKNOLOGI KOMPUTER. KALIAN BISA MENGIKUTI PEMBELAJARAN PEMROGRAMAN DENGAN BERTAHAP PADA MATERI YANG SUDAH SAYA SEDIAKAN, JIKA ADA MATERI YANG MEMBINGUNGKAN SILAKAN LAKUKAN KOMENTAR PADA MATERI YANG ANDA TANYAKAN ATAU KALIAN BISA MENGHUBUNGI SAYA DIHALAMAN KONTAK.