Tuesday, November 10, 2015

Rumah Si Pitung || Home Pitung

Rumah Si Pitung || Home Pitung

Rumah Si Pitung || Home Pitung


         Rumah Si Pitung, yang bentuknya seperti rumah panggung dan berada di Jl. Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, adalah sebuah rumah yang dipercaya orang ada hubungannya dengan Si Pitung, seorang jagoan legendaris Betawi di jaman penjajahan Belanda.

Agak sulit untuk menemukan lokasi Rumah Si Pitung karena saya tidak berhasil mendapatkan petunjuk arah yang jelas untuk sampai ke sana, dan perlu bertanya beberapa kali sebelum akhirnya berhasil sampai di tempat parkir di dekat lokasi.

Sesaat setelah melangkahkan kaki saya lihat sebuah pesan selamat datang sederhana pada mulut jembatan kecil yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat parkir. Jembatan itu kabarnya sekarang sudah menjadi jembatan beton. Setelah melewati jembatan, Rumah Si Pitung sudah terlihat dari kejauhan.
Tengara dengan latar belakang Rumah Si Pitung yang waktu itu terlihat masih baru, memberi informasi bahwa rumah itu telah dijadikan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang.

Dari tempat ini saya bisa melihat beranda belakang Rumah Si Pitung yang berupa rumah panggung, dengan sejumlah perabotan rumah tangga dan caping terbuat dari bambu bergelantungan di sana. Ada pula jala untuk menangkap ikan yang dipasang dalam posisi mengembang.

Jalan masuk ke rumah berada di ujung yang lain, dan saya harus berjalan kaki mengelilingi rumah dari arah sebelah kiri untuk sampai ke halaman depan. Area Rumah Si Pitung ini dikelilingi tembok yang rendah.

Beberapa orang beranggapan bahwa Rumah Si Pitung ini adalah tempat dimana ia pernah tinggal. Namun rumah ini sebenarnya adalah milik pedagang kaya bernama H. Syafiuddin yang dirampok Si Pitung sekitar tahun 1883. Si Pitung dan kawan-kawannya memang sering merampok orang kaya untuk membantu rakyat miskin yang membuatnya sangat dibenci orang kaya dan penguasa Belanda, namun dipuja oleh rakyat kebanyakan.
Tampak muka bangunan Rumah Si Pitung yang menggunakan rancangan arsitektur rumah panggung bergaya Bugis dari Sulawesi. Di sebelah kiri terlihat undakan untuk naik ke atas rumah panggung dan selanjutnya masuk ke dalam ruangan. Sesaat setelah masuk ke dalam rumah, saya melihat di ruang depan terdapat seperangkat meja dan kursi tamu kuno dengan sebuah patung berpakaian adat pria Betawi namun berwajah rata.

Sebuah tulisan di dalam Rumah Si Pitung menceritakan bahwa selama delapan tahun (1886 – 1894) Si Pitung telah meresahkan penguasa kolonial di Batavia, sehingga Snouck Hurgronje yang menjadi penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera mengecam keras Kepala Polisi Batavia Schout Hijne yang tak juga sanggup menangkap Si Pitung.

Hurgronje menganggap sangat keterlaluan bahwa orang Eropa seperti Hijne sampai pergi ke dukun untuk bisa menangkap Si Pitung. Kepala polisi juga dianggap sangat tidak terpelajar karena tidak mampu memperhitungkan bahwa Si Pitung bisa hilir mudik naik kereta api. Hurgronje tambah gusar karena Si Pitung lolos dari penjara Meetser Cornelis saat tertangkap pada 1891. Bahkan Si Pitung membunuh Demang Kebayoran, kaki tangan Belanda yang menjadi musuh para petani. Demang itu juga yang menjebloskan Ji’ih, saudara misan Pitung, ke penjara dan kemudian tewas menjalani hukuman mati.

Dalam penelitiannya tahun 1984, Magriet van Teel mengungkapkan, yang disiarkan Bijdragen pada masa itu, bahwa polisi Belanda pernah menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, Jakarta Barat. Namun di rumah itu hanya ada beberapa keping uang benggolan senilai 2,5 sen yang tersimpan di dalam bambu. Padahal selama delapan tahun melakukan aksinya, Si Pitung telah menggasak uang dan emas permata yang sangat banyak jumlahnya dari para saudagar yang bersekutu dengan Belanda.
Pemandangan bagian dalam Rumah Si Pitung dengan ruang tamu berada di sisi sebelah kanan. Sebuah lukisan menggantung pada dinding kayu, dan di tengah ruangan tamu ini terdapat lampu minyak tradisional yang digantung di langit-langit ruangan.

Lantai asli rumah panggung ini terbuat dari bambu, dan penggantian menjadi lantai kayu dilakukan dalam sebuah pekerjaan renovasi yang didanai pemerintah DKI pada tahun 1972. Di belakang dinding kayu di sebelah kanan yang telah dicat ulang warna merah tua adalah ruang tidur dengan tempat tidur berkelambu model kuno.

Selanjutnya di belakang kamar ada area terbuka yang merupakan tempat makan keluarga, dengan sebuah kursi dan meja makan dan beberapa kendi tanah liat diletakkan di atasnya. Di sebelah area makan ada alat permainan congklak, rebana, sitar dan kopor-kopor tua yang disimpan di dalam.

Paling belakang, sebelum teras, terdapat dapur tradisional yang sangat sederhana namun terlihat masih agak baru. Koleksi beberapa buah lampu minyak tanah tradisional tampak berjajar di atas sebuah balok penyangga langit-langit di dekat dapur.

Nama sebelumnya rumah itu adalah Rumah Tinggi Marunda, sebelum kemudian berubah menjadi Langgar Tinggi dan lalu Rumah Si Pitung. Sering terjadinya banjir di daerah Kampung Marunda, yang terletak di daerah pantai Utara Laut Jawa, mungkin menjadi alasan utama kenapa rumah ini dibangun di atas tanah setinggi sekitar 1,5 meter.

Cara paling mudah untuk pergi ke sana jika menggunakan mobil adalah melalui JORR (Jakarta Outer Ring Road), Jalan Lingkar Luar Jakarta, ke arah Cilincing:
  •     keluar di ujung jalan tol, masuk ke Jl. Raya Cakung – Cilincing
  •     belok kanan ke Jalan Akses Marunda, lewati jembatan dimana anda akan melihat banyak perahu tradisional mengambang di atas sungai
  •     belok kiri pada simpangan pertama (GPS: -6.1077827, 106.9600641); ikuti jalan sampai ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, belok ke kanan, lalu ke kiri mengikuti jalan
  •     jalan lurus dari sini, dan anda akan sampai ke tempat parkir (GPS: -6.0982615, 106.9600748)
Anda bisa juga naik angkutan umum dari Terminal Tanjung Priok ke arah Rorotan. Bilang saja ke supir bahwa anda akan mengunjungi Rumah Si Pitung dan dapatkan petunjuk darinya.


         Pitung house, that looks like a house on stilts and located on Jl. Marunda Kampung Pulo, Marunda, Cilincing, North Jakarta, is a house that is believed to have something to do with the Pitung, a legendary hero Betawi in the Dutch colonial era.

A bit difficult to find the location of Home Pitung because I did not manage to get clear directions to get there, and the need to ask several times before it finally made it to the parking lot nearby.

Shortly after foot I saw a simple welcome message at the mouth of a small bridge which is only a few meters from the parking lot. The bridge was reportedly now a concrete bridge. After crossing the bridge, house Pitung already visible from a distance.

Landmarks in the background House Pitung that time it still looks new, informing that the house had been used as objects of cultural heritage are protected by law.

From this place, I could see the back porch of the house Pitung stilts, with a number of household items and a hat made of bamboo hanging there. There is also the nets for a catch mounted in a position to expand.

The entrance to the house was on the other end, and I had to walk around the house from the left side to get to the front page. Area Pitung house is surrounded by a low wall.

Some people think that this is Pitung house where he once lived. But this house actually belonged to a rich merchant named H. Syafiuddin who robbed Pitung around 1883. Pitung and friends is often rob the rich to help the poor which makes it very hated the rich and Dutch authorities, but adored by the common people ,

The facade of the building house Pitung which uses the architectural design stage house style Bugis from Sulawesi. On the left visible steps to climb onto the stage house and further into the room. Shortly after entering into the house, I saw in the front room there is a table and a chair fashioned with a statue of a man dressed in traditional flat-faced Betawi yet.

An article in the House Pitung recounted that during the eight years (1886 - 1894) Pitung been troubling colonial ruler in Batavia, so Snouck who advised the Dutch government affairs Bumiputera condemned the police chief Batavia Schout Hijne who was also able to capture Si Pitung.

Hurgronje considered so outrageous that Europeans like Hijne to go to a traditional healer to catch Pitung. The police chief also considered very uneducated because it was not able to take into account that Pitung can take the train back and forth. Hurgronje added upset because Pitung escaped from prison Meetser Cornelis when arrested in 1891. Even Pitung kill Demat Kebayoran, accomplices of the Netherlands is an enemy of farmers. Demat was also jailed Ji'ih, cousins ​​Pitung, to jail and then killed his execution.

In his research in 1984, Magriet van Teel said broadcast Bijdragen at that time, that the Dutch police once raided the house Pitung in Rawa Belong, West Jakarta. However, in the house there are only a few pennies worth 2.5 cents benggolan stored in bamboo. In fact, during the eight years of the act, Pitung have to steal the money and gold gems that very many of the merchants who allied with the Dutch.

A view of the inside of the house Pitung the living room is to the right. A painting hanging on the wall of wood, and in the middle of the living room, there are the traditional oil lamp hanging from the ceiling of the room.

The original floor stilt houses made of bamboo and wood flooring replacement be carried out in a government-funded renovation work of the city in 1972. On the back of a wooden wall on the right which has been repainted a deep red color is the bedroom with a canopy bed old-fashioned ,

Furthermore, in the back of the room there is an open area which is a family meal, with a chair and a dining table and a couple of jugs of clay placed on it. Next to the dining area there is a tool congklak game, tambourine, sitar and old suitcases were stored inside.

Rear, before the porch, a traditional kitchen there is a very simple but looks rather new. A collection of some of the traditional kerosene lamps appear lined up on a support beam in the ceiling near the kitchen.

The previous name of the house is a house High Marunda, before later changed to High Langgar and then Home Pitung. Frequent occurrence of flood in Kampung Marunda area, which is located in the northern coast of Java Sea, may be the main reason why this house was built on land of about 1.5 meters tall.

The easiest way to go there if using a car is through JORR (Jakarta Outer Ring Road), Jakarta Outer Ring Road, towards Cilincing:

  •         out at the end of the motorway, go to Jl. Raya Cakung - Cilincing
  •         turn right onto Access Road Marunda, pass the bridge where you will see many traditional boat floating on the river
  •         turn left at the first junction (GPS: -6.1077827, 106.9600641); follow the road to the campus of the School of Sailing, turn right, then left following the road
  •         straight road from here, and you will get to the parking lot (GPS: -6.0982615, 106.9600748)
You can also take public transportation from Terminal Tanjung Priok towards Rorotan. Tell that to the driver that you will visit the house Pitung and get instructions from him.



Video Rumah Si Pitung :


Biasakan||Used to:
1.Comment
2.Like
3.Share


Reviewer: FajarYusuf.Com
ItemReviewed: Rumah Si Pitung || Home Pitung

Seseorang yang ingin membagi pengalaman dan ilmu yang berguna untuk para pembaca FajarYusuf.Com :)

TENTANG SITUS

SITUS INI ADALAH SITUS PEMBELAJARAN PEMROGRAMAN DAN JUGA PEMAHAMAN TERHADAP TEKNOLOGI KOMPUTER. KALIAN BISA MENGIKUTI PEMBELAJARAN PEMROGRAMAN DENGAN BERTAHAP PADA MATERI YANG SUDAH SAYA SEDIAKAN, JIKA ADA MATERI YANG MEMBINGUNGKAN SILAKAN LAKUKAN KOMENTAR PADA MATERI YANG ANDA TANYAKAN ATAU KALIAN BISA MENGHUBUNGI SAYA DIHALAMAN KONTAK.